Pidato Pina Bausch

pina

Yang Menggerakkanku

Diterjemahkan oleh: Keisha Aozora

Pidato yang dibacakan oleh Pina Bausch pada kesempatan hari pemberian penghargaan Kyoto Prize tahun 2007. 

Pidato ini diterbitkan oleh Inamori Foudation.

 

Ketika aku mengenang lagi masa kecilku, masa ketika aku menjadi siswa, dan masa ketika aku menjadi penari dan koreografer – aku melihat garis besar dalam kedua masa itu. Keduanya penuh suara, penuh aroma. Dan tentu penuh dengan orang-orang yang mengambil bagian dalam hidupku. Banyak dari pengalamanku sebagai kanak-kanak terjadi lagi di atas panggung. 

Aku akan mulai dengan masa kecilku.

Pengalaman-pengalaman perang tidak bisa dilupakan. Sollingen menderita kerusakan yang parah. Ketika sirine udara pertanda perang berbunyi, kami harus lari ke tempat mengungsi yang kecil di taman. Pernah juga bom mendarat di sebagian rumah kami. Untungnya kami semua selamat. Suatu saat, orang tuaku mengirimku ke rumah bibi di Wuppertal karena tempat mengungsinya lebih besar. Mereka pikir aku akan lebih aman di sana. Aku punya kantung hitam kecil dengan motif polkadot, dan sebuah boneka di dalamnya. Aku selalu menaruh bonekaku di dalam kantung polkadot itu, jadi aku siap membawanya kapanpun sirine perang berbunyi.

Aku juga ingat lapangan kami di belakang rumah. Ada pompa air di sana, satu-satunya di area perumahan itu. Orang-orang selalu mengantri untuk mendapatkan air.

Karena mereka semua tidak punya makanan, mereka harus saling bertukar demi makan. Mereka akan menawarkan barang-barang yang mereka punya untuk ditukarkan dengan makanan. Ayahku, misalnya, menawarkan dua anyaman, sebuah radio, dan sepasang sepatu boot untuk seekor domba jadi kami bisa minum susu. Domba ini kemudian dibungkus – dan ayahku menamai domba kecil itu “Pina”. Pina kecil yang manis. Hari itu hari Paskah, dan “Pina” berbaring di atas meja makan kami sebagai domba panggang. Domba kecil itu sudah dibunuh, dan hal itu mengejutkanku. Sejak saat itu aku tidak pernah makan domba.

 

Orang tuaku punya sebuah hotel kecil dengan restoran di Sollingen. Seperti juga kakak-kakakku, aku membantu di sana. Aku biasanya mengupas kentang sampai berjam-jam, membersihkan tangga, merapikan kamar – semua pekerjaan yang harus kamu lakukan di sebuah hotel. Tapi, lebih penting dari semua itu, sebagai anak-anak, aku selalu melompat dan menari di dalam kamar-kamar ini. Tamu-tamu melihatnya. Personil teater terdekat sering makan di restauran kami. Mereka selalu berkata: “Pina seharusnya ikut grup ballet.” Dan suatu hari mereka membawaku ke grup ballet anak-anak di teater mereka. Aku berusia lima tahun saat itu.

Dari awal, aku mengalami sesuatu yang tidak terlupakan: semua anak harus tengkurap dan mengangkat kedua kaki mereka, menekuk kaki ke depan dan menaruhnya di kanan dan kiri kepala mereka. Tidak semua anak bisa melakukan ini, tapi bagiku mudah. Dan gurunya bilang: “Kamu benar-benar seorang kontorsionis.” Tentu saja saat itu aku tidak tahu apa artinya. Namun dari intonasi, dan bagaimana dia mengatakan kalimat itu, aku tahu pasti itu sesuatu yang istimewa. Sejak saat itu, grup ballet itu adalah tempat yang selalu ingin kutuju.

Ada  taman di belakang rumah kami, tidak begitu luas. Di situlah keluargaku mengungsi, dan juga di sebuah bangunan yang panjang –  Skittle Allgang kecil yang panjang. Di belakang gang itu dulu ada toko berkebun. Orang tuaku membeli lahan ini untuk membuka restauran taman. Mereka mulai dengan lantai dansa berbentuk lingkaran dari ubin konkrit. Sayangnya hanya berhenti sampai di situ. Tapi bagiku dan bagi anak-anak kampung, itu adalah surga. Semua tumbuh liar di sana, di antara rumput dan ilalang tiba-tiba ada bunga-bunga yang indah. Ketika musim panas, kami bisa duduk di atap bangunan panjang itu dan makan ceri hitam yang asam yang menggantung di atas atap. Sofa tua yang bisa kita jadikan trampoline. Ada rumah kayu tua untuk tanaman; mungkin di situlah produksi pertamaku dimulai. Kami bermain kebun binatang. Beberapa anak kecil harus jadi binatang, dan sisanya jadi pengunjung. Tentu saja kami memanfaatkan lantai dansa itu. Kami biasanya berpura-pura sebagai aktor terkenal. Aku biasanya jadi Marika Rock. Ibuku sama sekali tidak menyukai hal ini. Setiap beliau datang, salah satu dari kami akan memberi tanda dan semua akan bersembunyi.

Karena ada pabrik di dekat taman itu yang membuat coklat dan permen, kami, anak-anak kecil akan selalu berdiri di mana aroma manis yang hangat bisa tercium. Kami tidak punya uang, tapi kami bisa mencium.

Bahkan restoran di hotel kami sangat mengasyikkan bagiku. Orang tuaku harus bekerja keras dan tidak punya waktu untuk mengurusku. Pada malam hari, waktu aku seharusnya tidur, aku akan bersembunyi di bawah meja dan diam di sana. Apa yang kulihat dan kudengar sangatlah menarik: persahabatan, cinta, dan pertengkaran – apa saja yang bisa kamu alami di sebuah restoran lokal seperti ini. Kurasa imajinasiku distimulasi oleh hal-hal ini. Aku selalu menjadi seorang penonton. Aku tidak banyak bicara. Aku lebih banyak diam.

Saat pertamaku di atas panggung, adalah ketika aku berusia lima atau enam tahun. Ketika itu di acara malam ballet, harem dan istri-istri favorit sultan ada di sana. Sang sultan berbaring di atas dipan dengan banyak buah. Aku didandani sebagai seekor angsa dan sepanjang pertunjukan aku harus mengipasinya dengan kipas yang besar. Pertunjukan lain adalah sebuah operet berjudul “Mask in Blue” di mana aku berperan sebagai loper koran. Menjerit sepanjang pertunjukan: “Gazetta San Remo, Gazetta San Remo, Armando Cellini memenangkan hadiah.” Aku sangat menikmati menjalani peranku dengan sangat seksama. Aku mengambil koran harian “Solinger Tageblatt” dan aku menuliskan “Gazetta San Remo” dengan sangat hati-hati di setiap koran. Sejujurnya, tidak ada yang bisa melihatnya, tapi bagiku itu sangat penting. Aku dibolehkan main di banyak opera, acara tari, dan bahkan sebagai penari. Satu hal yang selalu jelas bagiku; aku tidak mau melakukan hal lain di teater selain menari.

Di grup ballet anak-anak, pernah ada situasi dimana kami harus melakukan sesuatu yang aku tidak mengerti sama sekali. Aku putus asa dan merasa malu dan aku menolak untuk mencobanya. Aku bilang saja “Aku tidak bisa”. Setelah itu, guruku mengantarkanku pulang. Aku menderita berminggu-minggu; aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan agar bisa kembali ke sana. Lalu tentu saja aku pergi ke sana lagi. Tapi kalimat “Aku tidak bisa” adalah kalimat yang tidak pernah kuucapkan lagi.

Hadiah-hadiah dari Ibuku terkadang memalukan. Beliau sangat berusaha untuk memberiku sesuatu yang istimewa. Misalnya, pada usia ke-12, aku menerima jaket bulu yang besar – aku punya sepasang celana kotak-kotak pertama yang ada di toko – aku diberi sepatu hijau yang kotak. Tapi aku tidak mau memakai semua ini. Aku tidak suka jadi pusat perhatian.

 

Ayahku adalah figur lelaki dengan selera humor yang bagus, dan sangat sabar. Dia bisa bersiul dengan sangat keras. Sebagai anak kecil, aku selalu suka duduk di pangkuannya. Dia punya kaki yang luar biasa besar – ukuran 50. Sepatunya harus dibuat khusus. Dan kakiku juga tumbuh semakin besar dan besar. Waktu umur 12, ukuran sepatuku 42. Aku jadi takut kalau kakiku makin membesar sehingga aku tidak bisa menari lagi. Aku berdoa: “Ya Tuhan, tolong jangan biarkan kakiku membesar lagi.”

Ayahku sakit keras dan harus istirahat total. Aku berusia 12 tahun saat itu. Dua orang tetangga menjagaku, dan aku mengelola restoran sendirian selama dua minggu. Aku mengantar bir dan melayani para tamu. Aku belajar banyak ketika itu. Kurasa hal ini sangat penting dan juga menyenangkan. Aku tidak mau menukar pengalaman ini dengan apapun.

Aku suka mengerjakan pekerjaan rumah. PR dari sekolah bagiku adalah kesenangan yang besar, terutama soal-soal matematika. Sebenarnya bukan latihannya yang menyenangkan, tapi menuliskannya dan melihat bagaimana kertas itu terlihat.

Ketika Paskah tiba, kami anak-anak harus mencari telur Paskah. Ibuku selalu punya tempat untuk menyembunyikan telur yang butuh berhari-hari untuk menemukannya. Aku suka mencari dan menemukan. Ketika kutemukan telur-telur itu, aku ingin Ibuku menyembunyikannya lagi.

Ibuku suka jalan bertelanjang kaki di atas salju. Dan juga main perang bola salju denganku, atau membangun rumah salju. Ibu juga suka memanjat pohon. Dan Ibu sangat ketakutan ketika hujan badai dengan banyak suara halilintar. Ibu akan bersembunyi di dalam lemari di balik jaket-jaket.

Rencana wisata Ibuku selalu mengejutkan. Ada suatu kesempatan, misalnya, ketika dia ingin pergi ke Scotland Yard. Ayahku ingin mengabulkan keinginan-keinginan Ibu, kemanapun itu – jadi mereka benar-benar pergi ke London.

 

Ada sebuah foto dimana ayahku duduk di atas seekor unta. Namun, aku tidak bisa ingat lagi di negara mana mereka berada.

 

Walau Ibuku tidak tahu apapun tentang masalah teknis, dia selalu membuatku terkagum. Suatu ketika dia mengambil radio rusak, dia memperbaikinya dan entah bagaimana dia berhasil.

Sebelum ayahku beli hotel kecil dengan restoran di Sollingen, dia adalah pengemudi truk jarak jauh. Dia datang dari keluarga sederhana di Gunung Taunus dan punya banyak saudara perempuan. Awalnya dia punya kuda dan gerobak untuk mengantarkan barang-barang. Lalu dia beli sebuah lori dan mengendarainya sepanjang waktu di Jerman. Ayah suka membicarakan tentang perjalanan-perjalanannya dan lalu menyanyikan lagu special pengemudi lori dengan nada yang berganti-ganti.

Tidak pernah, dalam hidupnya, ayah membuatku sakit hati. Ada suatu ketika, situasi itu sangat serius, dia tidak memanggilku Pina, tapi Philippine, namaku sesungguhnya. Ayahku adalah orang yang sangat bisa dipercaya.

Orang tuaku sangat bangga padaku walau mereka hampir tidak pernah melihatku menari. Mereka tidak pernah benar-benar tertarik tentang hal itu juga. Namun aku merasa sangat dicintai oleh mereka. Aku tidak perlu membuktikan apapun. Mereka mempercayaiku; mereka tidak pernah menyalahkanku untuk apapun. Aku tidak pernah harus merasa bersalah, bahkan ketika aku sudah dewasa. Itulah hadiah terindah yang mereka bisa berikan padaku.

Ketika aku 14 tahun, aku pergi ke Essen untuk belajar seni tari di Folkwang School. Hal yang penting bagiku di sana adalah bertemu Kurt Jooss. Dia adalah salah satu pendiri sekolah ini dan salah satu dari koreografer paling hebat.

Folkwang School adalah tempat dimana semua kesenian bertemu di bawah satu atap. Sekolah itu tidak hanya punya seni pertunjukan seperti opera, drama, musik, dan tari, tapi juga lukis, patung, fotografi, grafik, disain, dan seterusnya. Ada guru-guru yang luar biasa di setiap departemen. Di koridor dan di kelas-kelas ada melodi dan teks untuk didengar, berbau cat dan material-material lain. Setiap pojokan penuh dengan murid-murid yang sedang berlatih. Dan kita saling mengunjungi setiap departemen. Semua orang tertarik dengan karya semua orang. Dengan cara ini, banyak karya kolaboratif terjadi. Itu adalah masa yang penting bagiku.

Kurt Jooss membawa guru-guru dan koreografer yang sangat dia hargai, ke Essen, terutama guru-guru dari Amerika, dan mereka akan mengajar beberapa pelajaran atau tinggal di Essen untuk waktu yang lebih panjang. Aku belajar banyak dari mereka.

Dalam aspek apapun, bagian yang sangat penting dari pelatihan di sekolah itu adalah untuk memiliki pondasi – dasar yang luas – dan kemudian setelah berkarya untuk beberapa waktu, kamu harus menemukannya sendiri, apa yang ingin kamu ekspresikan. Apa yang ingin aku sampaikan? Kea rah mana aku harus mengembangkan lebih jauh? Mungkin inilah dimana batu pondasi untuk karya-karyaku yang berikutnya diletakkan.

Jooss sendiri adalah sesuatu yang special bagiku. Dia hangat, penuh humor, dan memiliki pengetahuan luar biasa dalam hampir semua bidang. Melalui dia, aku bersentuhan dengan music. Sebelumnya aku hanya tahu lagu-lagu pop dari restauranku yang kudengar di radio. Jooss menjadi ayah keduaku. Kemanusiaannya dan pandangannya, itulah hal-hal yang terpenting bagiku. Betapa beruntungnya aku bertemu dia pada usia yang penting.

jean cebron-kurt jooss-pina bausch -

Di masa-masa studiku ada suatu saat di mana aku menderita sakit punggung yang parah. Aku mengunjungi dokter berkali-kali. Hasilnya adalah aku harus segera berhenti menari, atau aku harus menggunakan alat bantu jalan dalam enam bulan. Apa yang kulakukan? Aku memutuskan untuk tetap menari walau itu hanya untuk setengah tahun. Aku harus memutuskan apa yang sangat penting bagiku.

Tahun 1958 aku dinominasikan untuk penghargaan performans Folkwang. Untuk memenuhi nominasi itu, aku harus membuat program kecil. Hari presentasi pun tiba. Aku harus naik panggung. Aku sudah berada di posisi, lampu sudah menyala – dan tidak ada yang terjadi. Sang pianis tidak ada di atas panggung. Penonton sudah bersemangat untuk menontonku menari. Aku tinggal di atas panggung, berdiri diam di posisiku. Aku merasa tenang, lebih tenang, dan lebih tenang. Berdiri diam. Aku tidak ingat berapa lama aku berdiri seperti itu, tapi itu cukup lama hingga akhirnya mereka menemukan sang pianis. Ia berada di tempat yang sama sekali berbeda, di gedung lain. Di ruangan itu, para penonton terkesima dengan bagaimana aku tetap berdiri saja di sana dengan ketenangan. Aku tumbuh dan tumbuh. Ketika musik mulai dimainkan, aku menari. Saat itu aku menyadari bahwa dalam situasi yang secara ekstrim tidak mudah, ketenangan yang besar merengkuhku, dan aku bisa menarik kekuatan dari kesusahan. Ini adalah kemampuan yang aku telah belajar untuk mempercayainya.

Aku sangat lapar dalam belajar dan dalam menari. Inilah mengapa aku mengajukan beasiswa dari pelayanan pertukaran pelajar Jerman ke Amerika. Dan aku mendapatkannya. Hanya dengan begitu aku mengalami dan mengerti artinya bepergian sendiri ke Amerika, 18 tahun, benar-benar sendiri, tanpa bisa berbicara bahasa Inggiris. Orangtuaku membawaku ke Cuhaven. Sebuah band brass bermain ketika kapal berangkat dan semua orang menangis. Lalu aku naik kapal dan melambaikan tangan. Orang tuaku juga melambai dan menangis. Dan aku berdiri di atas dek, menangis juga; rasanya sedih sekali. Aku punya perasaan kalau kami tidak akan bertemu lagi.

Aku lalu menulis surat pendek untuk Lucas Hoving di New York dan mengirimnya di Le Havre. Dia salah satu pengajar di Essen. Aku berharap dia menjemputku di New York. Delapan hari kemudian, ketika aku tiba di New York, aku tidak punya sertifikat kesehatan di tas tanganku, tapi ada di koperku. Karena hal itu, aku harus menunggu berjam-jam di atas kapal sampai 1.300 penumpang membereskan urusan mereka dengan sertifikat kesehatan. Ketika aku turun dari kapal, Lucas ada di situ. Di tangannya ada beberapa tangkai bunga yang sudah layu karena hari itu sangat panas. Dia sudah menungguku dari tadi.

Awalnya, hidup di New York tidaklah mudah karena aku tidak bisa berbicara Inggris. Ketika aku ingin makan, aku pergi ke kafetaria di mana aku bisa tinggal tunjuk langsung ke makanan yang aku mau. Waktu aku mau bayar, aku tidak bisa menemukan dompetku. Dompet itu hilang. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caranya bayar? Benar-benar memalukan. Akhirnya aku pergi ke kasir dan berusaha menjelaskan bahwa dompetku hilang. Aku keluarkan sepatu balletku dan sepatu-sepatu lain, aku menaruhnya di atas meja kasir dan menjelaskan bahwa aku tinggalkan barang-barang itu sebagai jaminan bahwa aku akan kembali dan membayar. Orang di meja kasir itu lalu memberiku lima dolar sehingga aku bisa pulang. Aku merasa luar biasa bagaimana dia mempercayaiku. Aku lalu selalu mampir ke kafetaria ini, hanya untuk tersenyum pada orang itu. Aku sering mengalami situasi seperti ini di New York; orang-orang sana selalu siap membantu.

Di New York aku menyerap apapun yang ditawarkan padaku. Aku ingin mempelajari semuanya dan mengalami semuanya. Saat itu adalah masa kejayaan tari di Amerika: dengan Georg Balanchine, Martha Graham, Jose Limon, Merce Cunningham… Di Julliard School of Music, di mana aku belajar, ada guru semacam Antony Tudor, Jose Limon, penari-penari dari Graham Company, Alfredo Corvino, Margarete Craske – aku juga berkali-kali bekerja dengan Paul Taylor, Paul Sanasardo, dan Donya Feueur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s